MENU

Kiyai Tubagus Rusydi: Dari Pejuang Kemerdekaan, Ketua Pelaksana Muktamamar NU Ke-13, Hingga Menjadi Syuhada

Kiyai Tubagus Rusydi: Dari Pejuang Kemerdekaan, Ketua Pelaksana Muktamamar NU Ke-13, Hingga Menjadi Syuhada

Oleh: E. Ova Siti Sofwatul Ummah
 
             Kiyai Tubagus Rusydi adalah salah satu putra dari Kiyai Tubagus Arsyad (salah satu pendiri MALNU) dengan Nyai Ratu Salamah. Karakter Kiyai Tubagus Rusydi yang dikenal zuhud dan andap asor, diturunkan dari ayahandanya. Buah jatuh memang tidak akan jauh dari pohonnya. Begitu kira-kira pepatah yang pantas disematkan kepada Kiyai Rusydi karena kesamaan karakter dengan ayahandanya.
 
Karakter yang demikian kuat membuat Kiyai Rusydi dicintai dan dekat dengan masyarakat. Kecintaan masyarakat terhadap Kiyai Rusydi dapat dibuktikan ketika Kiyai Rusydi keluar rumah untuk membeli kebutuhan rumah tangganya. Dapat dipastikan Kiyai Rusydi akan dihampiri masyarakat yang melihatnya hanya untuk sekedar mencium tangan atau alakadar berbincang singkat. Alhasil, setiap keluar rumah dapat dipastikan ia tidak akan kembali dalam hitungan menit, ia pasti membutuhkan waktu berjam-jam. Padahal hanya untuk membeli beberapa kebutuhan rumah yang sudah direncanakan sebelumnya.
 
Sebagai penerus dari madrasah yang didirikan oleh ayahandanya pada tahun 1916 M,  mengaji dan melayani umat adalah keseharian Kiyai Rusydi. Waktu dan segala hal yang dimiliki oleh Kiyai Rusydi ia dedikasikan untuk umat.
 
Selain mengaji dan melayani umat, Kiyai Rusydi juga dengan penuh takdzim dan sabar ikut turut membentangkan bendera NU di tanah Banten. Tentu awal mula pendirian NU tidak serta merta dapat diterima masyarakat, khususnya di Banten, tanah jawara. Ayahnya masyhur dikenal sebagai salah satu utusan ulama Banten yang hadir saat pembentukan Jami’iyah Nahdlatul Ulama dan  menyetujui hasil kesepakatan pada pertemuan pembentukan Jami’iyah Nahdlatul Ulama, yaitu setiap murid dari Syaikh Munhammad Nawawi Al-Bantani yang memiliki lembaga pendidikan, maka nama belakang lembaga tersebut dilengkapi dengan kalimat Linadlatil Ulama.
 
Pada tahun 1938, Ormas Islam terbesar di Indonesia, yakni Nahdlatoel Oelama (NO)—NU sekarang—menyelenggarakan muktamar ke-13 yang bertempat di Menes, tanah para pejuang dan tanah dimana NU di Banten pertama kali disyi’arkan.  Muktamar ke-13 dimulai sejak hari Sabtu pahing 11 Juni, bertepatan dengan 12 Robiul Awal 1357 H. Dan berakhir hari Kamis pahing, 17 Robiul Awal 1357 H. Dalam muktamar ke-13 tersebut turut hadir diantaranya KH Wahab Hasbullah, KH Raden Asnawi Kudus, KH Wahid Hasyim dan para ulama sepuh lainnya.
 
Pada muktamar ke-13 di Menes, Kiyai Rusydi adalah ketua panitia dalam pertemuan akbar tersebut dan tentunya memiliki andil yang sangat besar dan membutuhkan persiapan yang matang. Bagaimana tidak, Menes akan didatangi ulama, kiyai, nyai dan warga Nahdliyin se-Nusantara. Tentu hal tersebut adalah kesempatan istimewa dan langka. Bahkan menjadi ketua panitia adalah hal yang tidak mungkin ditolak oleh Kiyai Rusydi. Ia menggerakan santri dan masyarakat sekitar untuk rambati ratahayu mempersiapkan segala hal, seperti mengumpulkan bambu dan kayu untuk membangun panggung dan tenda untuk arena muktamar, menyiapkan kitab yang akan dipakai ketika muktamar, menyiapkan logistik untuk menjamu para nahdliyyin se-Nusatara, hingga menyiapkan tempat istirahat untuk para peserta muktamar.
 
Dalam muktamar NU ke-13 tersebut membahas berbagai masalah, diantaranya tentang perekonomian, pertanian, perbankan dll. Muktamar ke-13 Menes itulah awal lahirnya Muslimat NU, wadah husus bagi perkumpulan perempuan Ormas Nahdlatul Ulama.
 
Muktamar NU ke-13 itu juga dipantau oleh seorang Orientalis terkenal yaitu Dr. Pijper, yang saat itu menjabat sebagai kepala Adviseur voor Inlandseche Zaaken (penasehat urusan Rakyat Pribumi), yang menulis banyak tentang perkembangan Islam awal abad ke-19 hingga abad ke-20. Berita penyelenggaraan dan segala hal yang berkaitan dengan muktamar NU ke-13 di Menes dimuat di surat kabar harian dengan menggunakan bahasa Melayu & bahasa Belanda, Sehingga Menes daerah terpencil menjadi masyhur keseluruh Hindia Belanda.
 
Pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia, setiap kiyai NU identik sebagai pengurus NU, dan  sebagai pejuang kemerdekaan Indonesia. Karena resolusi jihad NU ‘hubbul wathan minal iman’ yang menjadi api semangat untuk para kiyai dan santri bertarung nyawa. Bahkan setiap kiyai memiliki pleton khusus yang dilatih dengan skill militer dan dengan skill kanuragan sebagai salah satu bekal untuk bergeriliya di medan perang. Demikian juga dengan Kiyai Rusydi, bukan hanya sebagai panglima pleton tapi ia juga dianggap berbahaya sehingga  yang menjadi buronan para kolonial. Bukan hanya buron ketika hidup, bahkan mati sekalipun jasadnya akan tetap dicari.
 
Abah H. Enjim, saksi hidup ketika Kiyai Rusydi menjadi buronan kolonial, menuturkan kepada salah satu cucu dari Kiyai Rusydi, bahwa beberapa hari sebelum penembakan Kiyai Rusydi di Masjid Ciherang, Kiayi Rusydi memang sudah diburu oleh pasukan Belanda. Kiyai Rusydi beserta santri-santrinya berpindah-pindah tempat dari kampung satu kekampung lainnya. Namun tempat persembunyian mereka selalu diketahui oleh Belanda. Hal tersebut terjadi karena ternyata ada mata-mata dalam barisan pleton tersebut.
 
Sepanjang malam sebelum penembakan yang menyebabkan Kiyai Rusydi syahid, ia terus diburu sambil dihujani peluru. Pada akhirnya ketika waktu sholat subuh Kiayi Rusydi bersama para santri-santrinyanya berhenti di Masjid Ciherang dan ternyata Allah SWT menghendaki beliau Syahid di Masjid itu. Mata-mata pengkhianat Kiyai Rusydi mungkin sudah melaporkan keberadaan Kiyai Rusydi beserta santrinya untuk melaksanakan shalat subuh berjama’ah di masjid Kampung Ciherang. Di bagian mimbar imam sudah dipasang senjata yang dipastikan dapat menghancurkan batok kepala Kiyai Rusydi yang sedang mengimami shalat subuh berjama’ah masyarakat sekitar dan pletonya.
 
Seketika, pada saat Kiyai Rusydi mengangkat kedua belah tangan untuk qunut, ia roboh akibat dari berondongan peluru yang mengarah ke batok kepalanya. Ia pun syahid dan segera dishalatkan dan dikafani tanpa dimandikan terlebih dahulu oleh penduduk setempat dan santri-santrinya, dengan keyakinan bahwa Kiyai Rusydi telah syahid.
 
Tidak sampai disitu, ternyata tentara Belanda menginginkan Jasad Kiayi Rusydi, akhirnya para santrinya membawa lari sampai kelereng gunung Pulosari—kampung Moncor—dan dimakamkan dikampung Moncor. Hal tersbut dilakukan oleh para santrinya agar para londo tidak dapat menemukan makam Kiyai Rusydi dan mengambil jenazahnya untuk diserahkan kepada palinglima tertinggi tentara Belanda di Kerasidenan Banten.
 
 Kiyai Rusydi wafat pada tahun 1948 ketika mengimami shalat subuh di Masjid Kampung Ciherang. Ia syahid sebagai bunga bangsa yang turut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Di balik nikmat kemerdekaan yang kita rasakan sekarang, banyak Rusydi-Rusydi lain yang meninggalkan kebahagiaan bersama keluarga dan orang tercintanya dan lebih memilih turun ke medan perang untuk merebut tanah kelahiran dan memukul mundur para londo.
Kiyai Rusydi, jasamu tak akan lekang dan surga bersamamu.
 
 
Sumber kisah:
Kiyai Tb. Ahmad Irfan Al-Hafidz bin Almagfurllah Mamanda KH Tb Ma'ani bin KH. Tb Rusydi bin KH. Tb. Arsyad.
Lahum Alfatihah.
Wallahu A'lamu Bissowab.

KOMENTAR





banner